Facebook

Header Ads

[REVIEW FILM] Train To Busan



Review Film Train To Busan

fullsizephoto713613.jpg

Halo. Hmm sepertinya udah lama ga mampir di blog kesayangan gue nih. Oke, selama pandemic gua banyak diem di rumah dan mencoba nonton film - film bertema zombie yang menurut gue menarik. Dan disinilah gue mau cerita.
Beberapa waktu yang lalu, gue meluangkan waktu untuk dapat menonton film dan menikmati me-time di sela-sela waktu kosong. Menonton itu penting, agar pikiran dapat rileks sejenak. Apalagi sudah lama gue tidak meluangkan diri untuk dapat sekadar menonton film Korea atau Jepang kesukaan atau film - film terbaru. Sehingga gue menjadi kurang update terhadap perkembangan film kekinian.
Akhirnya setelah bertanya ke temen yang maha tahu tentang film dan buat streaming film via YouTube (karena kuota Unlimited xD), pilihan gue jatuh pada film pendek Korea berjudul Train to Busan. Mengapa? Karena film ini berdurasi singkat, banyak yang nyaranin buat nonton ini, sehingga gue dapat menuntaskan film ini hanya dengan sekali tonton. 

Sinopsis.

Film ini merupakan jenis film bergenre horor dan semi-action (seru ditonton tengah malam). Disutradarai oleh Yeon Sang Ho dan ditayangkan pada tahun 2016 lalu. Sedangkan pemainnya adalah Gong Yoo (Seok-Woo), Kim Su An (Soo-an), Jung Yu Mi (Sung Kyung), dan Ma Dong Seok (Sang-hwa). Film ini berhasil mencetak rekor pertama, mengumpulkan penonton sebanyak lebih 10 juta sejak ditayangkan perdana di tahun 2016.
Ceritanya cukup seru dan menegangkan, yaitu mengenai wabah virus yang melanda Seoul sehingga menginfeksi masyarakat dan mengubah mereka menjadi mayat hidup atau zombie. Awalnya, Seok-Woo yang seorang manajer keuangan bersifat egois dan individualis, menemani anaknya Soo-an menuju Busan untuk menemui ibunya yang sudah bercerai darinya. Mereka berangkat dengan menggunakan kereta api cepat, bersama ratusan penumpang lainnya.
Namun tanpa diketahui oleh mereka, seorang penumpang perempuan tiba-tiba saja masuk ke dalam kereta. Ternyata ia telah terinfeksi oleh virus dan mengubahnya menjadi zombie. Sehingga dalam perjalanan perempuan itu lantas menginfeksi sebagian besar penumpang lainnya, sehingga membuat kepanikan besar.
Di sini lah Seok Woo bersama dengan beberapa penumpang lainnya mencoba bertahan hidup melawan para zombie dengan membentuk suatu team. Mereka berjuang satu sama lainnya untuk saling menjaga dan terlepas dari serangan zombie di dalam kereta yang membawa mereka ke Busan, lokasi paling aman dari infeksi virus tersebut.
Akhir kisah, hanya dua orang yang mampu bertahan yaitu Jung Yu Mi (Sung Kyung), dan Kim Su An (Soo-an). Bahkan, Seok Woo sebagai pemain utama harus tewas dan menjadi zombie seperti lainnya demi melindungi anak perempuannya dan seorang perempuan hamil.
Sehingga mereka menjadi dua orang yang mampu bertahan, dan tiba ke Busan disambut oleh para tentara yang telah mensterilkan wilayah tersebut sebagai wilayah paling aman dari infeksi virus.
Ada beberapa pesan dan nilai-nilai moralitas penting yang saya temukan dari film ini sebagai bahan masukan bagi kita:

Tidak Boleh Egois.

Seok Woo sebagai tokoh utama digambarkan sebagai seorang sosok egois yang suka mengedepankan kepentingannya pribadi dan tidak peduli terhadap orang lain. Di awal kisah, Seok Pun masih tetap saja mengedepankan egonya sendiri untuk hanya menyelamatkan dirinya dan anaknya.
Sehingga pada akhirnya setelah ia hampir saja tertangkap zombie dan Sang-hwa tetap menolongnya meski tidak mengenalnya, pikirannya pun berubah dan memilih untuk lebih mengedepankan keselamatan bersama agar dapat bertahan hidup dari serangan brutal para zombie.
Sedangkan ada sisi lainnya yang menunjukkan sisi keegoisan penumpang lain yang tidak mau menerima sisa-sisa penumpang yang berhasil kabur dari para zombie, dan akhirnya harus menelan keegoisannya itu karna pengkhianatan kelompoknya.
5-adegan-filem-train-to-busan.jpg
Dari sini kita dapat mengerti, bahwa bersikap egois justru tidak menguntungkan. Sikap mementingkan diri sendiri hanya akan membuat diri kita diasingkan oleh orang lain atau tidak dihargai oleh lingkungan sosial tempat kita berada.

Pentingnya Kerja Sama.

52e23-zpjpwju.png

Untuk melawan gerombolan zombie yang sangat ganas, maka dibutuhkan kerja sama tim yang baik. Film ini berhasil menunjukkan bagaimana kerja sama mampu menaklukan kesulitan terberat sekalipun. Meskipun pada akhirnya, hanya dua yang mampu bertahan. Dan ini lebih baik, daripada tidak ada sama sekali.
Seok Woo dan rekan-rekannya yang lain menunjukkan bagaimana kerja sama tim yang dibangun dengan rasa saling percaya dan mendukung, membuat mereka mampu bertahan hingga detik-detik terakhir daripada penumpang kereta api lainnya. Jika tidak, film tentu saja akan berakhir tragis di awal.
Kerja sama itu penting. Terlebih lagi untuk pencapaian tujuan bersama. Tanpa kerja sama, akan sulit menggapai suatu hal. Mungkin bisa saja sesuatu itu dicapai sendiri, tapi akan lebih berat dihadapi.
Screenshot_2018-03-12-15-12-17-63.png
Kerja sama yang baik akan memudahkan segala hal, mengurangi beban, dan meringankan masalah. Tanpa solidaritas, kita akan sulit menyusun strategi. Banyak kasus di kehidupan kita yang tidak terselesaikan jika tidak bekerja sama. Salah satu yang terkecil adalah membangun kerja sama di dalam keluarga.

Rela Berkorban.

Screenshot_2018-03-12-15-00-55-51.png

Sikap rela berkorban juga digambarkan secara jelas di sini. Sang-hwa yang harus rela mengorbankan dirinya terlebih dahulu untuk menahan para zombie demi menyelamatkan istri dan rekan-rekan sekelompoknya. Diakhiri dengan pengorbanan Seok Woo - yang harus rela digigit zombie - padahal sudah ada harapan untuk bertahan.
Hanya karena ingin menyelamatkan anak satu-satunya dan istri rekannya yang dititipkan padanya, maka ia merelakan dirinya untuk tewas dan melompat dari kereta agar tidak menginfeksi anaknya. Di moment ini, gue seriusan terharu dengan pengorbanan ayahnya.
Screenshot_2018-03-12-15-04-21-03.png
Mengapa rela berkorban itu perlu?
Untuk pencapaian tujuan, sikap ini sangat dibutuhkan. Tidak mungkin seseorang tidak mengorbankan sesuatu demi pencapaian. Karena di setiap pilihan, tentu saja ada pengorbanan.

Apalagi jika itu merupakan kondisi yang sangat mendesak, maka berkorban itu dibutuhkan demi keberlangsungan satu sisi kehidupan. Contoh lain misalnya, orang tua berkorban untuk menyekolahkan anaknya, seorang ibu berkorban meninggalkan karir demi anaknya, seseorang berkorban menunda kuliah lanjutannya demi menikah, dan lain-lainnya.
Nah, sekian review menurut gue. Gimana? Kalo menurut gue sih ini film rekomen banget buat kalian yang lagi gabut, lebih seru lagi nonton di malam hari horrornya akan terasa. So, silahkan menonton^^.

Posting Komentar

0 Komentar